ANTISIPASI SERANGAN OPT AKIBAT PERUBAHAN IKLIM, BAPELTAN JAMBI LATIH PENYULUH PERTANIAN

ANTISIPASI SERANGAN OPT AKIBAT PERUBAHAN IKLIM, BAPELTAN JAMBI LATIH  PENYULUH PERTANIAN

Muaro Jambi, Swarna – Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi bekali penyuluh pertanian untuk mampu mengambil langkah-langkah guna mengatasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) akibat dampak perubahan iklim. (03/03/2020)

Makin tak menentunya iklim beberapa tahun terakhir ini membuat banyak pihak sulit untuk memprediksi, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada tingginya tingkat serangan OPT pada komoditas pertanian khususnya tanaman padi, palawija dan hortikultura. Kekhawatiran ini cukup beralaskan mengingat ketersediaan bahan pangan masih belum semuanya mencukupi kebutuhan masyarakat.

Guna mengantisipasi hal tersebut, pihak kementerian pertanian melalui Bapeltan Jambi memberikan bekal kepada penyuluh pertanian untuk mampu mengantisipasi kejadian luar biasa (force major) akibat tingginya serangan OPT pada lahan pertanian. Pembekalan tersebut diberikan pada peserta pelatihan mitigasi dan dampak perubahan iklim yang dilaksanakan selam lima hari.

Bertempat di Aula Bapeltan Jambi, sebanyak 30 orang peserta dari enam provinsi menerima materi dari berbagai disiplin ilmu, baik dari Widyaiswara, Peneliti, Dosen, dan dari BMKG. Adapun materi-materi yang diberikan lebih dititik tekankan pada ilmu praktis yang nantinya dapat diterapkan di lokasi penyuluh berada. Misalnya materi ekologi tanah, mitigasi iklim terhadap serangan OPT, kalender tanam berdasar kearifan lokal, serta mitigasi banjir dan kekeringan.

Binsar Simatupang salah seorang Widyaiswara Bapeltan Jambi mengatakan bahwa perlunya memberikan pembekalan kepada para penyuluh, mengingat dampak perubahan iklim makin hari makin nyata terasa, terutama pada dunia pertanian. Misalnya saja kekeringan yang lebih panjang, sehingga penyulitkan petani untuk mendapatkan air guna mengairi areal persawahan mereka.

“Perubahan iklim ini sudah sangat terasa bagi dunia pertania, makanya kita perlu melakukan antisipasi. Conoth sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat lobang pori sebagai usaha menyimpan air, apalagi jika dikombinasikan dengan mengisi lobang tersebut yang bahan-bahan pembuat kompos, tentu akan lebih bermanfaat lagi,” jelas Binsar disela praktek pembuatan lobang pori.

Sementara itu pihak kementerian pertanian terus menggalakan program PROPAKTANI, dimana salah satu output yang diinginkan adalah peningkatan produksi tanaman pangan. Maka oleh sebab itu usaha untuk mengantisipasi perubahan iklim ini sangat diperlukan agar program tersebut dapat berjalan secara maksimal.

Penulis : Izatul Janah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *