PEMANFAATAN KONTEKS “COVID-19” DALAM MENGEMBANGKAN PENALARAN PROPORSIONAL SISWA

PEMANFAATAN KONTEKS “COVID-19” DALAM MENGEMBANGKAN PENALARAN PROPORSIONAL SISWA

Oleh : Rohati*

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan makna dari pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sejalan dengan itu, dijelaskan juga tentang makna pendidikan nasional. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Perubahan zaman yang terjadi sangat cepat disertai dengan kejadian atau peristiwa alam membuat sistem pendidikan juga mengalami perubahan. Sebagai contoh kejadian yang terjadi hari-hari ini. Tidak ada yang bisa menduga bahwa terjadi perubahan yang begitu cepat dalam kebijakan sistem pendidikan nasional kita karena pandemi Covid-19. Di awal kemunculannya di Indonesia, Februari 2019, kampus dan sekolah masih menyelenggarakan pembelajaran dengan sistem tatap muka seperti biasanya. Tetapi sebulan kemudian, kampus dan sekolah mulai diliburkan karena khawatir bahaya efek domino dari penyebaran virus Covid-19 ini.

Mendikbud Nadiem Makarim yang akrab disapa mas menteri pun kemudian sigap mengeluarkan edaran terkait pembelajaran daring (online) agar pembelajaran dilaksanakan dari rumah masing-masing yang diistilahkan dengan study from home. Siswa diminta tetap stay at home untuk mencegah penularan yang lebih luas dari Covid-19.

Semua mata pelajaran di sekolah harus dilaksanakan secara daring. Wawancara terbatas yang penulis lakukan kepada siswa di sekolah menengah terkait kesulitan mereka mengikuti pelajaran secara daring karena banyak faktor pemghambat. Faktor penghambat yang dimaksud bisa dari perangkat teknologi komunikasi yang digunakan (kapasitas laptop dan telepon genggam yang kurang memadai), koneksi internet yang digunakan tidak stabil, baik di smartphone, laptop, ataupun komputer, sampai kesulitan memahami pelajaran itu sendiri karena keterbatasan komunikasi dengan guru atau teman sekelas.

Satu satu mata pelajaran yang perlu menjadi perhatian bersama adalah pelajaran matematika. Penulis sangat sering mendengar keluh kesah siswa terkait sulitnya pelajaran tersebut. Karakteristik matematika dengan simbol-simbol dan aturan formal yang sering dikatakan “rumus” yang menuntut siswa berpikir berpikir kritis, kreatif, komunikasi dan penalaran matematis membuat pelajaran ini tetap menjadi momok tersediri bagi sebagian siswa. Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, otomatis membuat siswa dan guru tidak bisa berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung di dalam kelas.

Pertanyaannya adalah bagaimana membuat siswa lebih mudah dalam belajar matematika secara daring ini. Banyak materi matematika yang melibatkan penalaran proporsional yang diajarkan di sekolah menengah yang sering kesulitan guru mengajarkannya. Penalaran proporsional sendiri mewakili kemampuan untuk mulai memahami hubungan perkalian di mana sebagian besar konsep aritmatika biasanya berdasarkan penjumlahan. Ide-ide besar dari penalaran proporsional adalah terkait dengan rasio dan proporsi. Rasio merupakan perbandingan perkalian dari dua kuantitas atau ukuran. Tahap perkembangan penting adalah kemampuan siswa untuk mulai memikirkan rasio sebagai kesatuan tersendiri, berbeda dari dua ukuran yang membentuknya. Rasio dan proporsi lebih melibatkan perbandingan perkalian daripada perbandingan penjumlahan. Rasio setara berasal dari perkalian dan pembagian, bukan dari penjumlahan dan pengurangan. Penalaran proporsional dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan perbandingan dan penentuan ekuivalensi dari rasio dan penyelesaian proporsi dalam konteks dan situasi berbasis soal yang bervariasi tanpa mengacu pada aturan atau rumus.

Dalam hal ini, guru matematika di sekolah menengah bisa menghadirkan Covid-19 sebagai konteks dalam pembelajaran daringnya. Konteks bisa diartikan sebagai situasi atau fenomena/kejadian alam yang terkait dengan konsep matematika yang sedang dipelajari. Menurut Prof. Turmudi, guru besar pendidikan matematika UPI, konteks dijadikan titik awal mempelajari matematika. Konteks memiliki peranan ganda yaitu sebagai sumber belajar dan sebagai wahana atau wilayah untuk menerapkan matematika. Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini sangat cocok dijadikan konteks dalam mengajarkan materi matematika yang berkaitan dengan penalaran proporsional. Penalaran proporsional memang merupakan dasar dari berbagai topik yang luas dalam kurikulum sekolah menengah, misalnya pecahan, aljabar, kesebangunan, grafik data dan peluang.

Sumber : Kemenkes.go.id

Beberapa contoh konteks pandemi Covid-19 dalam Penalaran Proporsional

Rasio bagian terhadap keseluruhan, misalnya jumlah laki-laki yang terkena Covid-19 dibandingkan dengan jumlah keseluruhan kasus yang terjadi di satu propinsi tertentu. Selain memudahkan siswa memahami konsep, guru juga secara tidak langsung bisa mengedukasi siswa terkait hal yang harus dilakukan oleh siswa dalam menghadapi Covid-19.
Rasio bagian terhadap bagian. Contohnya jumlah orang yang terkena virus Covid-19 dibandingkan dengan yang tidak terkena Covid-19.

Laju sebagai Rasio. Guru bisa memanfaatkan konteks berita terbaru tentang yang disampaikan Senin (4/5/2020) oleh Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo usai rapat bersama Presiden Joko Widodo melalui video conference bahwa laju kasus baruyang terkena Covid-19 menurun sampai 11 persen.
Grafik yang menunjukkan Rasio. Guru bisa meminta siswa membuat grafik tentang data dari kumpulan rasio setara yang sudah didiskusikan. Misalanya grafik tren kasus sembuh dari orang yang terjangkit virus Covid-19 di Indonesia dari hari ke hari semakin tinggi. Hingga saat ini grafik kasus positif juga belum menunjukkan tren yang melandai (flat). Walaupun fluktuatif, namun penambahan kasus positif virus corona masih terus terjadi.

Proporsi. Sebagai contoh, guru memberikan konteks berdasarkan data dari laman covid19.go.id. terkait jumlah kasus dari 2 provinsi, misalnya di Sumatera Utara dengan Jambi per waktu tertentu. Misalnya per 8 Mei 2020 ada 48 orang yang sembuh dari virus Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara dari total 142 kasus. Guru bisa sandingkan datanya dengan data kasus yang terjadi di Jambi dengan 1 orang yang sembuh dari 47 kasus. Kemudian guru bisa menanyakan berapa perbandingan jumlah kasus dari 2 provinsi itu sampe akhir Mei jika trend peningkatan jumlah kasus relatif sama. Guru bisa mengekspolasi Provinsi mana yang lebih tinggi persentasi kasusnya.

Semua upaya diatas bisa dilakukan guru dalam menghadirkan konteks pembelajaran yang sesuai dengan kondisi real yang terjadi saat ini. Diharapkan guru bisa melakukan improvisasi dan menangkap setiap moment yang terjadi menjadi konteks pembelajaran yang cocok dihadirkan di dalam kelas onlinenya. Siswa secara tidak langsung juga terasah kemampuan penalaran proporsionalnya tanpa merasa kesulitan memahami materi yang diberikan dengan konteks tersebut.

* Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi dan Mahasiswa Program Doktor Program Studi Pendidikan Matematika SPS UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *