SEJARAH MELAYU JAMBI

SEJARAH MELAYU JAMBI

Muaro Jambi, Swarna – Melayu Jambi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah suku bangsa Melayu Nusantara. Dalam beberapa literatur, Melayu Jambi merupakan suku bangsa tua atau Melayu Tua, sama dengan suku Jawa yang dikatagorikan sebagai suku-suku tertua yang mendiami wilayah nusantara.

Bicara Melayu Jambi, maka akan terhubung dengan sejarah kerajaan Sriwijaya sebagai entitas politik yang cukup gemilang dalam sejarah bangsa Melayu Nusantara. Sebagai kearajaan Hindu terbesar, Sriwijaya berada diwilayah Palembang kini. Namun tidak sedikit juga yang menyebutkan bahwa luas wilayah Sriwijaya sebagai pusat kerajaan mencakup hulu sungai Dharmasraya, hilir Batanghari sampai muara Musi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof. Slamet Muljana, letak geografis Jambi yang langsung berhadapan dengan laut lepas lebih cocok untuk menetapkan wilayah ini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Di samping bukti-bukti arkeologis lebih banyak ditemukan di wilayah ini, juga karena Sriwijaya sebagai kerajaan maritim dan perdagangan lebih memungkinkan untuk dilalui oleh kapal-kapal besar.

Prof. Muljana juga memaparkan berita-berita dari Arab yang mengatakan adanya Maharaja dari Zabag yang dapat diidentifikasi sebagai Muara Sabak yang berada di ujung Semenanjung Jambi (Kabupaten Tanjung Jabung Timur) dan menjadi pintu masuk bagi kapal-kapal yang menuju Jambi dan laut lepas. Atau dari berita China yang mengatakan nama San-fo-ts’i sebagai kawasan penting dalam Sriwijaya saat itu dan dapat diidentikkan dengan (Muara) Tembesi yang

Akan tetapi pendapat umum para sejarawan yang berdasarkan beberapa bukti arkeologis mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya berpusat di Palembang. Pendapat ini sebenarnya lebih karena berdasarkan adanya Prasasti Telaga Batu Palembang yang berhubungan dengan Sriwijaya. Namun demikian, menurut Muljana, jika prasasti tersebut diteliti dengan seksama maka akan ditemukan kesimpulan sebaliknya. Prasasti tersebut sebenarnya adalah semacam peringatan bagi Palembang yang telah ditaklukkan oleh Sriwijaya yang berpusat di Jambi untuk menjaga ketertiban dan keamanan wilayah tersebut dan bukanlah piagam raja atau negara Sriwijaya. Begitu juga Prasasati Kedukan Bukit Palembang yang sebenarnya adalah suatu hadiah dari raja yang telah menaklukkan wilayah tersebut (Muljana, 2008: 115-116).

Kerajaan yang diperkirakan berdiri antara abad ketujuh sampai abad ketiga belas Masehi ini dalam catatan sejarah Indonesia disepadankan dengan kebesaran Majapahit yang juga pernah menguasai banyak wilayah di Nusantara dan Asia Tenggara dan berpusat di Jawa Timur. Tidak banyak memang bukti arkeologis yang menunjukkan keberadaan Sriwijaya di wilayah Sumatera, kecuali beberapa candi dan batu bertulis serta prasasti yang ada di Jambi, Riau dan Palembang. Itu pun dengan kondisi yang masih kurang lengkap jika dibandingkan dengan bukti-bukti arkeologis yang ditinggalkan oleh peradaban-peradaban yang pernah ada di Jawa. Meskipun demikian, beberapa peninggalan sejarah tersebut cukup dijadikan bukti untuk menetapkan bahwa di Sumatera pernah ada dan berdiri sebuah kerajaan besar yang dapat dikatakan sebagai super power-nya kawasan regional Asia Tenggara saat itu. Salah satu wilayah yang pernah dikuasai oleh Sriwijaya adalah Jambi yang jauh sebelum kerajaan ini berdiri sudah memiliki kedaulatan sendiri melalui tiga kerajaan Melayu Kuno, yaitu: Koying dan Tupo di abad ketiga Masehi serta Kantoli di abad kelima Masehi dan berlanjut kemudian dengan munculnya Kerajaan Melayu Jambi (www.melayuonline.com, 2020 dan www.wikipediaindonesia.com, 2020).

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *